Selasa, 25 November 2025

๊ฏฑׁ๊ׅ֒ซ€ׁ๊ׅܻญˆׁׅแฅŽ꫶ׁ๊ׅชฑׁ๊ׅช€ׁׅแงׁ แงׁแจตׁׅีชׁׅ݊ ษ‘ׁׅ֮tׁׅ tׁׅhׁ๊ׅ֮ซ€ׁׅܻ ษ‘ׁׅ֮แฅฃׁׅ֪tׁׅษ‘ׁ๊ׅ֮ญˆׁׅ



๐Ÿ ⋆ ๐Ÿ‹ ๐ŸŽ€ ๐’œ๐“€๐“Š ๐“ˆ๐’พ ๐“€๐“Š๐’ธ๐’พ๐“ƒ๐‘” ๐ŸŒบ๐“‡๐‘’๐“ƒ ๐“‚๐’พ๐“ƒ๐’พ ๐“Ž๐’ถ๐“ƒ๐‘” ๐“ˆ❁๐“€ ๐“€๐’ถ๐“๐‘’๐“‚, ๐“…๐’ถ๐’น๐’ถ๐’ฝ๐’ถ๐“ ๐’ถ๐“ˆ๐“๐’พ๐“ƒ๐“Ž๐’ถ ๐“‡๐’ถ๐“‚๐‘’ ๐“‰๐’ถ๐“…๐’พ ๐“‰๐‘’๐“‰๐‘’๐“… ๐“ˆ๐“Š๐“€๐’ถ ๐’ท๐’พ๐“€๐’พ๐“ƒ ๐“‹๐‘’๐“๐Ÿฉ๐’ธ๐’พ๐“‰๐“Ž. ๐ŸŽ€ ๐Ÿ‹ ⋆ ๐Ÿ



1. Orientation (Opening)

In 2022, I started serving as an altar server at the Holy Cross Church in Kemuning. At that time, everything felt completely new to me. I often saw altar servers during Mass, but I never imagined that one day I would become one of them. When I finally joined, I didn’t know much about the responsibilities or the flow of the liturgy. I was only given simple tasks, such as carrying candles, standing beside the altar, or helping with small preparations. Even though the tasks were simple, I already felt proud because I could take part in serving the Mass. Being involved in the liturgy made me excited and motivated me to learn more.

Besides the tasks, I also had to learn how to behave properly in front of the congregation. I learned how to stand straight, stay focused, and avoid unnecessary movements. Those things seemed easy, but once I stood in front of the people, I realized how hard it was to stay calm. However, I was eager to improve. The senior altar servers who guided me were very patient, and that helped me feel more confident.


2. Events (Series of Events)

Year 2022:
My first year was filled with learning the basics. I learned how to carry the candles correctly, how to prepare the altar before Mass, and how to move according to the flow of the liturgy. The seniors taught me step by step how to walk quietly, the correct standing positions, when to bow, and how to understand cues from the priest. At first, I felt nervous because I was afraid of making mistakes, but slowly I became more used to it and understood my duties better. This service taught me discipline, and little by little, I began to build confidence and feel like a real part of the altar server team.


Year 2023:
The year 2023 became a new stage for me. I began receiving more challenging duties that required more focus. I was trusted to carry the missal for the priest, prepare liturgical items, and manage my movements during the Mass. These tasks required accuracy because even a small mistake could affect the service.


Year 2024 – present:
From 2024 until now, my responsibilities have grown even more. I serve not only in regular Sunday Masses but also in special celebrations such as feast days and other church events that require longer preparation and more detailed arrangements. Although the duties are more challenging, I enjoy them. I feel proud every time I am given an important role.

One of the biggest changes is that I started helping train new altar servers. I teach them the basics I once learned how to walk confidently, understand the order of the Mass, and stay calm in front of the congregation. Teaching them made me realize how far I’ve grown. It also reminded me of how patient my seniors were when they trained me, and now I can pass on that same patience to the new members.

In 2024, we also had a camping activity together. We stayed outdoors, cooked as a group, and took part in various team activities. It was a fun experience that brought us closer and gave us new motivation for serving.

During these years, I also started helping to train new altar servers. I teach them the basics I once learned—how to walk confidently, understand the order of the Mass, and stay calm in front of the congregation. Teaching them made me realize how much I have grown. It also reminded me of how patient the seniors were when they taught me.

Then in 2025, we had a very exciting recreation day: we went to Dufan and then visited the Cathedral. At Dufan, we played many rides and had so much fun, and the visit to the Cathedral gave us a peaceful and meaningful spiritual experience. It was the perfect mix of entertainment and reflection.

All these experiences from 2022 until now have truly shaped me. I have become more disciplined, more responsible, and more confident—both in serving and in my daily life.

3. Reorientation (Closing / Conclusion)


Overall, my journey as an altar server from 2022 until now has been a very valuable experience. I have learned many important life lessons such as discipline, teamwork, leadership, and responsibility. Every task, whether big or small, has helped shape me into a more mature individual.

Besides that, I gained many new friends and feel closer to the church community. Being active in church makes me feel more connected—not only to the people around me but also to my own faith. I am truly grateful for the trust and opportunities I have received throughout the years.

Becoming an altar server is a very special experience for me an experience that makes me proud and motivates me to keep serving better in the future.

Kamis, 20 November 2025

๐ŸŽ€ ๐’ฆ๐‘’๐‘”๐’พ๐’ถ๐“‰๐’ถ๐“ƒ ๐’ฎ๐’ถ๐’พ๐“ƒ๐“‰ ๐‘€๐’ถ๐“‡๐“Ž ๐’ฒ๐’ถ๐“Ž'๐“ˆ ๐ŸŽ€


 ๐Ÿ ⋆ ๐Ÿ‹ ๐ŸŽ€ ๐’œ๐“€๐“Š ๐“ˆ๐’พ ๐“€๐“Š๐’ธ๐’พ๐“ƒ๐‘” ๐ŸŒบ๐“‡๐‘’๐“ƒ ๐“‚๐’พ๐“ƒ๐’พ ๐“Ž๐’ถ๐“ƒ๐‘” ๐“ˆ❁๐“€ ๐“€๐’ถ๐“๐‘’๐“‚, ๐“…๐’ถ๐’น๐’ถ๐’ฝ๐’ถ๐“ ๐’ถ๐“ˆ๐“๐’พ๐“ƒ๐“Ž๐’ถ ๐“‡๐’ถ๐“‚๐‘’ ๐“‰๐’ถ๐“…๐’พ ๐“‰๐‘’๐“‰๐‘’๐“… ๐“ˆ๐“Š๐“€๐’ถ ๐’ท๐’พ๐“€๐’พ๐“ƒ ๐“‹๐‘’๐“๐Ÿฉ๐’ธ๐’พ๐“‰๐“Ž. ๐ŸŽ€ ๐Ÿ‹ ⋆ ๐Ÿ

แด‹แด‡ษขษชแด€แด›แด€ษด ๊œฑแด€ษชษดแด› แดแด€ส€ส แดกแด€ส'๊œฑ แดแด‡ษดแดŠแด€แด…ษช แด˜แด‡ษดษขแด€สŸแด€แดแด€ษด ส™แด€ส€แดœ ส™แด€ษขษช ๊œฑแด€สแด€

SEE ( Melihat )



Pada bulan September sampai Oktober, sekolahku mengadakan kegiatan Saint Mary Ways, yaitu program pelayanan untuk siswa kelas 9 sebagai bagian dari pembelajaran iman. Dari beberapa pilihan pelayanan yang tersedia, aku memilih menjadi misdinar di Gereja Salib Suci Kemuning. Aku memilihnya karena sejak kecil aku sudah tertarik dengan suasana misa dan ingin tahu seperti apa rasanya membantu pastor secara langsung di altar.

Hari pertama kegiatan diawali dengan pembagian kelompok. Aku sekelompok dengan Arya, karena kami sama² misdinar di gereja salib suci kamuning. Kami berdua kemudian membuat proposal pelayanan yang harus ditandatangani guru agama dan kepala sekolah. Rasanya agak formal, tapi itu membuat kami semakin sadar bahwa kegiatan ini bukan sekadar tugas sekolah biasa.

Kami dijadwalkan untuk melayani tiga kali: Misa Hari Raya pada 14 September pukul 07.30, serta dua misa harian pada 17 September dan 1 Oktober pukul 05.45. Yang paling menantang tentu misa harian, karena kami harus bangun saat langit masih gelap dan udara masih dingin. Tapi anehnya, suasana pagi di gereja terasa menenangkan. Bau dupa, suara langkah umat yang datang satu per satu, dan cahaya lilin membuat suasananya damai.

Tugas kami sebagai misdinar cukup beragam — dari menyiapkan altar, menyiapkan air dan anggur, sampai mengikuti prosesi misa sesuai arahan pastor. Saat Misa Hari Raya, aku mendapat tugas membawa lentera prosesi. Awalnya aku panik karena misa hari raya jauh lebih ramai dan khidmat. Aku takut salah langkah atau menjatuhkan perlengkapan misa. Tapi setelah berdoa dalam hati, aku mencoba fokus dan akhirnya misa berjalan lancar. Setelah selesai, aku merasa lega sekaligus bangga karena bisa melayani dengan baik.

Berbeda dengan Misa Hari Raya, misa harian jauh lebih singkat dan sederhana. Tidak ada nyanyian panjang, tidak banyak pernak-pernik misa, tapi suasananya justru lebih hening dan membuatku merasa dekat dengan Tuhan. Dari pengalaman itu, aku belajar disiplin, tanggung jawab, dan ketulusan dalam melayani.

Selama pelayanan, aku juga banyak memperhatikan umat yang datang. Meskipun misa pagi dimulai sangat awal, mereka tetap hadir dengan semangat. Melihat hal itu membuatku sadar bahwa iman bukan soal waktu, tapi soal niat. Di setiap misa, aku merasakan campuran perasaan gugup, tenang, dan bahagia — perasaan yang jarang aku rasakan dalam kegiatan lain di sekolah.



JUDGE ( Menilai )

Setelah semua pelayanan selesai, aku mulai merenungkan apa yang sebenarnya aku pelajari dari pengalaman ini. Aku sadar bahwa menjadi misdinar bukan hanya soal menjalankan tugas, tetapi juga tentang belajar untuk rendah hati dan siap melayani. Seperti Bunda Maria yang berkata, “jadilah padaku menurut perkataan-Mu,” aku juga belajar menerima tugas dengan hati yang tulus, meskipun terlihat sederhana.

Kadang aku merasa tugasku sepele — seperti menyiapkan anggur atau memegang lilin — tapi ternyata semua itu penting untuk kelancaran misa. Dari situ aku belajar bahwa tidak ada pelayanan yang terlalu kecil di hadapan Tuhan. Selama aku melakukannya dengan niat yang baik, semuanya tetap punya arti.

Aku juga menyadari bahwa melayani bukan cuma soal ritual, tapi tentang sikap hati. Saat aku berusaha melawan rasa malas bangun pagi, atau menahan gugup di depan umat, di situ aku merasa Tuhan hadir. Tuhan ada dalam momen tenang ketika aku bertugas di altar, saat membantu pastur, sampai dalam senyum umat yang datang berdoa dengan khusyuk.

Pengalaman ini mengingatkanku pada Lukas 1:38: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Ayat itu terasa nyata dalam pelayanan yang aku jalani. Aku merasa Tuhan sedang mengajarkanku untuk lebih taat dan setia melalui hal-hal sederhana.



ACT ( Tindakan )

Setelah melalui pelayanan ini, aku ingin mengubah cara pandangku dalam kehidupan sehari-hari. Aku ingin lebih disiplin, bukan hanya saat bertugas, tetapi juga dalam belajar dan membantu di rumah. Aku ingin tetap rendah hati dan tidak memilih-milih pekerjaan, sekecil apa pun itu.

Aku juga ingin membawa semangat melayani ini di luar gereja — misalnya dengan membantu teman yang sedang kesulitan, mendengarkan orang yang butuh cerita, atau membantu orang tua tanpa diminta. Aku menyadari bahwa melayani bukan hanya dilakukan di altar, tetapi juga dalam hal-hal kecil setiap hari.

Kegiatan Saint Mary Ways ternyata bukan sekadar proyek sekolah, tetapi pengalaman yang membuatku lebih peka, lebih peduli, dan lebih dekat dengan Tuhan. Aku merasa pelayanan ini menumbuhkan rasa tanggung jawab dan keinginan untuk berbuat baik tanpa pamrih. Jika nanti ada kesempatan untuk melayani lagi, aku pasti ingin ikut, karena di situlah aku merasa menemukan arti iman yang sederhana — mencintai Tuhan lewat tindakan kecil yang tulus.

Rabu, 12 November 2025

P€ัⓢⒾ๐€๐“น๐š๐ ๐•„๐ž๐งฤด๐”ขแ’ช๐š๐แŽถ ๐•ฆ๏ผฌแ—ฉโ„•gแ—ฉฮฎ

 



๐Ÿ ⋆ ๐Ÿ‹ ๐ŸŽ€ ๐’œ๐“€๐“Š ๐“ˆ๐’พ ๐“€๐“Š๐’ธ๐’พ๐“ƒ๐‘” ๐ŸŒบ๐“‡๐‘’๐“ƒ ๐“‚๐’พ๐“ƒ๐’พ ๐“Ž๐’ถ๐“ƒ๐‘” ๐“ˆ❁๐“€ ๐“€๐’ถ๐“๐‘’๐“‚, ๐“…๐’ถ๐’น๐’ถ๐’ฝ๐’ถ๐“ ๐’ถ๐“ˆ๐“๐’พ๐“ƒ๐“Ž๐’ถ ๐“‡๐’ถ๐“‚๐‘’ ๐“‰๐’ถ๐“…๐’พ ๐“‰๐‘’๐“‰๐‘’๐“… ๐“ˆ๐“Š๐“€๐’ถ ๐’ท๐’พ๐“€๐’พ๐“ƒ ๐“‹๐‘’๐“๐Ÿฉ๐’ธ๐’พ๐“‰๐“Ž. ๐ŸŽ€ ๐Ÿ‹ ⋆ ๐Ÿ

Besok aku ada ulangan, jadi hari ini aku mulai fokus belajar. Aku gak mau belajar mendadak malam ini karena biasanya malah bikin bingung sendiri dan malah bikin aku susah mengingat materi. Karena itu, aku udah nyiapin waktu khusus buat baca ulang materi biar besok aku bisa lebih siap pas ngerjain soal.

Aku mulai dengan membaca ulang catatan dari guru dan latihan soal yang sudah pernah dibahas di kelas. Cara ini bantu banget buat nge-refresh apa yang pernah aku pelajari. Kalau ada bagian yang belum ngerti, saya langsung tanya ke teman atau cari penjelasan lain di buku atau internet. Dengan begitu, saya bisa lebih paham sama isi pelajarannya dan gak cuma sekedar menghafal.

Supaya gak bosan, kadang aku ganti suasana waktu belajar. Misalnya belajar di ruang tamu, pindah ke meja makan, atau sambil mendengarkan musik dengan pelan biar suasananya lebih santai. Aku juga kasih waktu buat istirahat sebentar biar gak capek dan bisa lanjut belajar lagi dengan fokus yang lebih baik

Sekarang aku sudah merasa lebih siap buat ulangan besok. Tinggal ngulang sedikit materi lagi biar semuanya makin mantap. Aku berharap pas ulangan nanti aku bisa ngerjain dengan lancar dan mendapatkan hasil yang bagus. Semoga usahaku hari ini membawakan hasil yang memuaskan.